
Data Distribusi dan Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha Triwulan I 2026. (Sumber: BPS)
Jakarta, InfoPublik – Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa sektor kesehatan memiliki peran yang semakin strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Kontribusi sektor ini tidak hanya berasal dari layanan kesehatan, tetapi juga dari industri pengolahan, perdagangan, hingga perubahan pola pengeluaran rumah tangga untuk upaya pencegahan penyakit.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61 persen. Angka tersebut diperoleh melalui proses penghitungan secara berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, kemudian diagregasikan menjadi data provinsi hingga menghasilkan angka pertumbuhan ekonomi nasional. "Angka ini berdasarkan hasil perhitungan bottom-up, di mana seluruh kabupaten/kota menghitung angka pertumbuhan ekonomi yang kemudian diagregasikan menjadi provinsi, dan selanjutnya menjadi angka nasional," ujar Amalia dalam Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 bersama Kementerian Kesehatan di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, proses tersebut merupakan pekerjaan besar karena melibatkan seluruh kantor BPS di Indonesia untuk menghasilkan data pertumbuhan ekonomi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menjelaskan, sektor kesehatan ternyata memberikan kontribusi yang luas terhadap struktur produk domestik bruto (PDB), tidak hanya melalui jasa pelayanan kesehatan. "Hal yang menarik adalah bahwa sektor kesehatan bukan hanya berkontribusi pada jasa kesehatan di dalam PDB," kata Amalia.
Kontribusi tersebut juga berasal dari industri farmasi untuk manusia, industri alat diagnosis medis, perban, kasa, serta berbagai produk penunjang kesehatan lainnya yang masuk dalam sektor industri pengolahan (manufacturing). Pada Triwulan I 2026, sektor industri pengolahan tercatat tumbuh sebesar 5,04 persen.
Selain itu, sektor kesehatan juga berperan dalam aktivitas perdagangan, seperti perdagangan sediaan farmasi, alat kesehatan dan laboratorium, kosmetik, serta alat optik. Kelompok usaha tersebut menjadi bagian dari sektor perdagangan yang berkontribusi sebesar 13,3 persen terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 6,26 persen.
Sementara itu, kelompok jasa kesehatan yang mencakup rumah sakit, puskesmas, klinik pemerintah maupun swasta, praktik dokter mandiri, hingga layanan perawatan dan pemulihan, menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi. "Itu semua masuk ke dalam kelompok jasa kesehatan yang saat ini tumbuhnya cukup tinggi, yaitu 7,62 persen," jelasnya.
Amalia menuturkan, seluruh aktivitas ekonomi tersebut nantinya akan terpotret secara lebih komprehensif melalui Sensus Ekonomi 2026. Pendataan akan mencakup berbagai sektor usaha, mulai dari pertanian hingga beragam sektor jasa yang menjadi penggerak perekonomian nasional.
Perubahan Perilaku Belanja Kesehatan Masyarakat
Selain menggambarkan kontribusi sektor kesehatan terhadap PDB, BPS juga menyoroti perubahan perilaku masyarakat dalam membelanjakan kebutuhan kesehatan pascapandemi COVID-19.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), proporsi pengeluaran rumah tangga untuk tindakan preventif mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelum pandemi. Pada 2026, pengeluaran preventif tercatat mencapai 16,76 persen dari total pengeluaran kesehatan rumah tangga. "Bahkan pada periode pandemi, pengeluaran preventif meningkat signifikan. Catatan kita adalah pengeluaran untuk preventif ternyata saat ini lebih besar dibandingkan dengan periode sebelum pandemi," ungkapnya.
Di sisi lain, pengeluaran kesehatan rumah tangga masih didominasi oleh kebutuhan kuratif atau pengobatan, dengan proporsi mencapai sekitar 71 persen dari total belanja kesehatan masyarakat. "Temuan tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan melalui langkah-langkah pencegahan, seiring dengan masih tingginya kebutuhan terhadap layanan pengobatan," katanya.
Melalui Sensus Ekonomi 2026, pemerintah berharap tersedia data yang semakin lengkap dan akurat sebagai dasar perumusan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran, termasuk dalam memperkuat sistem kesehatan nasional serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan. (*)








