Pin It

20250829 Menkomdigi Gen Z dan UMKM Digital Jadi Motor Ekonomi Baru IndonesiaMenteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam Indonesia Summit 2025 oleh IDN Times di Jakarta Selatan, Rabu (27/8/2025) mengatakan generasi muda saat ini menjadi garis depan transformasi digital. Bahkan, Gen Z yang menjadi pengguna internet paling aktif menjadi pembentuk tren digital nasional. (Foto: Dok. Humas Kemkomdigi)

 

Transformasi digital telah menjadi mesin ekonomi baru Indonesia.

Tingkat penetrasi internet yang kini mencapai 229 juta pengguna atau sekitar 80 persen populasi, membuka peluang aktivitas produktif di semua sektor.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan Indonesia telah memasuki era ekonomi digital yang semakin inklusif, berdaya saing dan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kita fokus menggunakan mesin digitalisasi ini. Karena tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,03 persen. Di balik angka ini, kita melihat peran besar dari ekonomi digital khususnya melalui UMKM yang makin terdigitalisasi,” ungkapnya dalam Indonesia Summit 2025 oleh IDN Times di Jakarta Selatan, Rabu (27/8/2025).

Menurut Meutya, kontribusi nyata ekonomi digital dapat dilihat dari pesatnya adopsi sistem pembayaran digital.

Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini digunakan oleh lebih dari 32 juta merchant dengan total transaksi menembus Rp42 Triliun.

“Dari warung kecil di desa sampai di Jakarta yang padat penduduk, saya rasa itu keberhasilan kita melalui QRIS. Pedagang tradisional kini bisa mengakses pasar yang lebih luas lagi termasuk konsumen generasi digital. Ini semua menjadi bukti bahwa digitalisasi telah menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia per hari ini,” jelasnya.

Meutya menegaskan generasi muda saat ini menjadi garis depan transformasi digital.

Bahkan, Gen Z yang menjadi pengguna internet paling aktif menjadi pembentuk tren digital nasional.

Menurutnya, Gen Z juga menjadi kelompok masyarakat yang paling banyak memanfaatkan layanan berbasis artificial intelligence (AI).

“Sebanyak 43,7 persen gen Z kita telah memanfaatkan layanan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Ini artinya dengan masuknya AI di Indonesia, khususnya anak-anak muda mengadopsi dengan amat cepat,” tuturnya.

Sebagai regulator yang mendukung inovasi anak bangsa, Pemerintah menyiapkan langkah strategis yang meliputi penguatan infrastruktur, peningkatan literasi digital, serta penyusunan regulasi yang memastikan pemanfaatan teknologi berlangsung aman dan beretika.

Kementerian Komdigi juga telah mengirimkan izin prakarsa kepada Kementerian Sekretariat Negara untuk menyiapkan Peraturan Presiden tentang kecerdasan artifisial.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita memiliki PP atau Perpres terkait AI, karena ini sesuatu yang menjadi concern kita dan tantangan bersama dalam menghadapi era atau dunia yang menurut saya cukup baru dan berbeda dengan apa yang kita alami saat ini,” jelasnya.

Dengan berbagai langkah tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna melainkan pencipta teknologi digital, tetapi menjadi langkah pembentukan ekosistem yang memungkinkan generasi muda untuk berinovasi dan berkontribusi bagi perekonomian nasional.