
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat penguatan kemandirian teknologi nuklir di bidang kesehatan melalui pengembangan siklotron DECY-13, sebuah infrastruktur strategis untuk produksi radioisotop medis dan riset lanjutan. (Foto: Dok BRIN)
Jakarta, InfoPublik – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat penguatan kemandirian teknologi nuklir di bidang kesehatan melalui pengembangan siklotron DECY-13, sebuah infrastruktur strategis untuk produksi radioisotop medis dan riset lanjutan.
Kepala Pusat Riset Teknologi Akselerator (PRTA) BRIN, Muhammad Rifai, menegaskan bahwa pengembangan DECY-13 tidak hanya berorientasi pada aspek teknologi, tetapi juga pada penguatan kolaborasi internasional guna meningkatkan kapasitas riset nasional. “Kolaborasi dengan Thailand Institute of Nuclear Technology membuka peluang besar dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi siklotron,” ujar Rifai, dalam keterangan tertulis yang diterima Infopublik, Selasa (7/4/2026).
Riset ini difokuskan pada pengembangan akselerator partikel untuk produksi radioisotop, khususnya Fluor-18 (F-18), yang широко digunakan dalam diagnosis medis nuklir, seperti pemeriksaan PET scan. Ketersediaan radioisotop dalam negeri dinilai krusial untuk mendukung layanan kesehatan yang cepat, presisi, dan terjangkau.
Melalui kerja sama dengan Thailand Institute of Nuclear Technology, BRIN mengembangkan skema kolaborasi berbasis joint research, pertukaran peneliti, hingga pemanfaatan fasilitas bersama. Sinergi ini mempertemukan keunggulan masing-masing institusi, di mana TINT memiliki pengalaman dalam pengembangan beam line, sementara BRIN memiliki fasilitas siklotron yang terus dikembangkan.
Lebih dari sekadar kebutuhan medis, teknologi akselerator juga diarahkan untuk berbagai aplikasi strategis, mulai dari iradiasi pangan, sterilisasi alat kesehatan, hingga kebutuhan industri. Bahkan, BRIN mulai menjajaki pengembangan teknologi fusi sebagai visi jangka panjang menuju kemandirian energi berbasis plasma.
Di sisi lain, Executive Director TINT, Thawatchai Onjun, menilai kolaborasi ini sebagai langkah strategis dalam mempercepat pengembangan teknologi nuklir di kawasan. “Kolaborasi ini mempertemukan dua institusi dengan tujuan yang sama, yakni pemanfaatan teknologi nuklir untuk kepentingan masyarakat, baik di bidang medis, industri, maupun riset,” ujarnya.
Pengembangan DECY-13 merupakan bagian dari program strategis BRIN periode 2025–2029 yang mencakup tahapan desain, konstruksi, hingga pengujian operasional. Secara teknis, siklotron ini dirancang dengan satu beam port yang mampu memproduksi radioisotop sekaligus mendukung pengembangan aplikasi berbasis berkas proton.
Sistemnya dilengkapi komponen utama seperti magnet, vakum, frekuensi radio (RF), ekstraksi, hingga transport berkas yang dirancang presisi menggunakan teknologi simulasi mutakhir. Selain itu, sistem diagnostik berkas juga disiapkan untuk memastikan kontrol dan pemantauan proses akselerasi partikel secara optimal.
Dengan pengembangan ini, BRIN menargetkan peningkatan kapasitas nasional dalam produksi radioisotop untuk kebutuhan medis, industri, dan penelitian. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam penguasaan teknologi akselerator partikel di tingkat regional maupun global.
Melalui sinergi riset dan kolaborasi internasional, Indonesia kian mendekati kemandirian teknologi nuklir yang tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga membuka peluang inovasi lintas sektor di masa depan. (*)








