Pin It

20260522 Pemerintah Masih Mampu Jaga Defisit di Bawah 3 PersenMenteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah masih mampu mengendalikan fiskal nasional. Dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026). 

 

Yogyakarta, InfoPublik - Menanggapi kekhawatiran terkait lonjakan belanja pemerintah dan potensi defisit APBN yang melewati batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah masih mampu mengendalikan fiskal nasional.

Dalam acara Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026), Menkeu Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan belanja negara, tetapi juga menggerakkan sektor swasta melalui peningkatan likuiditas perbankan.

"Salah satu langkah yang dilakukan adalah memindahkan dana pemerintah sekitar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke sistem perbankan nasional agar kredit kepada masyarakat dan dunia usaha meningkat," tegas Menkeu.

Selain itu, lanjut Menkeu, pemerintah juga mendorong kementerian dan lembaga untuk mempercepat realisasi anggaran sejak awal tahun guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Menteri Keuangan mengungkapkan bahwa defisit APBN yang sempat mencapai 0,93 persen terhadap PDB pada Maret 2026, mulai membaik menjadi 0,64 persen pada April 2026.

Ia menyebut perbaikan tersebut didorong oleh reformasi perpajakan dan peningkatan penerimaan negara.

“Primary surplus juga sudah kembali positif. Artinya fiskal kita kembali berada pada jalur yang berkelanjutan,” ujarnya Menkeu Purbaya.

Bantah Narasi “Ekonomi TikTok”

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Keuangan juga menanggapi persepsi sebagian masyarakat yang merasa kondisi ekonomi saat ini lebih sulit dibandingkan data resmi pemerintah.

Ia menyoroti adanya perbedaan antara data statistik yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi, penurunan inflasi, dan berkurangnya angka pengangguran dengan persepsi publik yang merasa harga kebutuhan pokok meningkat dan lapangan kerja semakin sulit.

Menurutnya, sebagian persepsi negatif tersebut dipengaruhi oleh narasi media sosial yang ia sebut sebagai “ekonomi TikTok”.

Meski demikian, ia mengaku tetap melakukan evaluasi serius terhadap kondisi ekonomi di lapangan.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, penjualan mobil pada April 2026 meningkat 55 persen, sementara penjualan sepeda motor tumbuh 28 persen. Selain itu, konsumsi listrik dan distribusi bahan bakar minyak juga masih menunjukkan tren pertumbuhan positif. Data tersebut dinilai mencerminkan daya beli masyarakat yang masih cukup kuat.

Menkeu juga membantah anggapan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini semata-mata ditopang belanja pemerintah. Menurutnya, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi tetap dominan dibandingkan belanja negara.